… UUD

30 08 2005

… Ujung

… Ujung

… nya

… Duit … Taaa*********************k !!!!!!!!

– fitri’s poem





… renungan hati

30 08 2005

….

(kaulah temaram bayang di tengah hari kekosongan yang absen dari sunyi)

….

(kaulah rindu yang tak pernah pulang hembus nafas yang tak pernah menghirup kehidupan)

….

(kau senja yang tak pernah terbenam dan malam demi malam turun dalam megah di semesta yang tuna-dirimu tanpa setitik kegelapan taupun cahaya memberi maknaketiadaanmu)

….

(kaulah sejuta kata yang tak pernah terbilang bertalu siang dan malam terhukum inginku kan dirimu)

….





fountains

30 08 2005

we are fountains
splashing helplessly
surrender ourself to this longing lands

leaping highjust a second beforewe fall

fall as soundless
as voices flow
into each other’s path
beneath our secret tides
while rainbows snared
into our sands of water

listen, voices of these quiet fountains
voices of melting reflections
voices of our depths

it’s like a minstrall’s song
exhausted by faraway quest for a kind of redemptions,
when a crescent lurks
upon our restless skins

we are fountainsas water by its lightnes
shave splendoured over us
so flowing are we into each other’s soul





Kata pun memetik malam yang tumbuh. Seribu getar n…

30 08 2005

Kata pun memetik malam yang tumbuh.
Seribu getar nengayun pohon waktu.
Bunga kenangan pun luruh.
Barangkali sehelai rambut yang pernah kusimpan, masih berkisah tentang rindu.
Begitulah debar.
Tidur berdua.
Membaca bulan.
Suaramu mendendangkan bintang.
Barangkali hasrat tak pernah lewat.
Dan engkau memeluk erat gairahku.
Sepi pun terbuka.
Langkah terbagi ke dalam jiwa.
Malam ini aku bosan dengan segala impian.
Hanya desah nafas keliaran, hasrat dan cinta kita yang ada.