… Ujung
…
… Ujung
…
… nya
…
… Duit … Taaa*********************k !!!!!!!!
– fitri’s poem
… Ujung
…
… Ujung
…
… nya
…
… Duit … Taaa*********************k !!!!!!!!
– fitri’s poem
….
(kaulah temaram bayang di tengah hari kekosongan yang absen dari sunyi)
….
(kaulah rindu yang tak pernah pulang hembus nafas yang tak pernah menghirup kehidupan)
….
(kau senja yang tak pernah terbenam dan malam demi malam turun dalam megah di semesta yang tuna-dirimu tanpa setitik kegelapan taupun cahaya memberi maknaketiadaanmu)
….
(kaulah sejuta kata yang tak pernah terbilang bertalu siang dan malam terhukum inginku kan dirimu)
….
we are fountains
splashing helplessly
surrender ourself to this longing lands
leaping highjust a second beforewe fall
fall as soundless
as voices flow
into each other’s path
beneath our secret tides
while rainbows snared
into our sands of water
listen, voices of these quiet fountains
voices of melting reflections
voices of our depths
it’s like a minstrall’s song
exhausted by faraway quest for a kind of redemptions,
when a crescent lurks
upon our restless skins
we are fountainsas water by its lightnes
shave splendoured over us
so flowing are we into each other’s soul
Kata pun memetik malam yang tumbuh.
Seribu getar nengayun pohon waktu.
Bunga kenangan pun luruh.
Barangkali sehelai rambut yang pernah kusimpan, masih berkisah tentang rindu.
Begitulah debar.
Tidur berdua.
Membaca bulan.
Suaramu mendendangkan bintang.
Barangkali hasrat tak pernah lewat.
Dan engkau memeluk erat gairahku.
Sepi pun terbuka.
Langkah terbagi ke dalam jiwa.
Malam ini aku bosan dengan segala impian.
Hanya desah nafas keliaran, hasrat dan cinta kita yang ada.